Tampilkan postingan dengan label PENYAKIT DALAM KEHAMILAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENYAKIT DALAM KEHAMILAN. Tampilkan semua postingan

7 Tips menghilangkan sakit pinggang dalam kehamilan

Nyeri pinggang selama kehamilan adalah keluhan umum pada wanita hamil. Angkanya sekitar 50-70 persen dari wanita hamil bisa merasakannya. Nyeri pinggang ini bisa dirasakan di semua tingkat usia kehamilan. Tetapi paling banyak dirasakan saat kehamilan tua.

Penyebabnya :
  • Peningkatan hormon – hormon yang dilepaskan saat hamil, akan membuat ligamen (penunjang rahim di daerah panggul (pelvis) menjadi lembut dan sendi2 menjadi longgar dalam rangka mempersiapkan proses kelahiran bayi. Perubahan2 ini akan mempengaruhi punggung wanita hamil
  • Arah gravitasi – pusat gravitasi pada wanita hamil secara perlahan akan berubah ke arah depan saat perut semakin membuncit, yang menyebabkan postur tubuh berubah.
  • Tambahan Berat badan ekstra – baik dari ibu maupun dari bayi
  • Postur atau posisi – postur yang tidak baik, berdiri berlebihan, dan membungkuk dapat memicu/menambah nyeri pinggang
  • Stres – stres biasanya bisa menemukan bagian lemah dari tubuh, sehingga wanita hamil akan mengalami peningkatan rasa nyeri pinggang selama hamilnya .
7 tip dibawah ini bisa mengurangi nyeri tersebut:

1: Selalu menjaga/mempertahankan sikap postur tubuh yang baik
Saat bayi tumbuh, pusat gravitasi akan bergeser ke depan. Untuk menghindari jatuh ke depan, maka wanita hamil mungkin mengimbanginya dengan bersandar - yang dapat meregangkan otot-otot di pinggang bawah dan menyebabkan sakit pinggang selama kehamilan.

Prinsip postur tubuh yang baik (harus dibiasakan):
* Berdiri tegak dan lurus.
* Dada ditinggikan.
* Bahu kebelakang dan rileks.
* Jangan merapatkan lutut.

Ketika berdiri, berdirilah dengan kedua kaki membuka (memang gak sopan sih haha). Jika harus berdiri untuk jangka waktu yang lama, istirahatkan satu kaki di angkat sedikit (bisa pakai dingklik).Pilihlah kursi yang mendukung punggung (ergonomis), atau kalau cuma kursi biasa yang ada, maka tempatkan bantal kecil di belakang punggung bagian bawah. Punggung bagian atas dan leher posisikan lurus.

No 2: Pakai sepatu yang tepat
Pakailah sepatu bertumit rendah dengan lengkungan yang baik.

No 3: Mengangkat sesuatu dengan benar
Jangan membengkokkan pinggang jika ingin mengambil sesuatu dari lantai, tetapi berjongkoklah.

No 4: Tidur miring.
Tidur miring dan jangan telentang. Salah satu atau kedua lutut ditekuk. Menaruh bantal di bawah tekukan lutut dan perut juga akan membantu. Atau menggunakan bantal khusus hamil yang men-suport mulai dari dada, perut dan kaki.

Nomor 5: Panas, dingin atau pijat
Gunakan bantal pemanas ke punggung, atau es pack bergantian dengan panas. Menggosok punggung juga mungkin bisa membantu. Lebih baik lagi, minta bantuan ahli pijat profesional.

Nomor 6: Adanya aktivitas fisik dalam rutinitas harian
Aktivitas fisik yang teratur dapat menjaga tubuh menjadi kuat dan dapat meredakan sakit punggung selama kehamilan. Dengan izin dokter, cobalah kegiatan seperti berjalan kaki atau berenang.

No 7: Pertimbangkan terapi komplementer/alternatif
Beberapa penelitian menunjukkan akupunktur yang dapat membantu meringankan sakit punggung selama kehamilan. Chiropractic merupakan alternatif lain yang bisa membantu.

Namun demikian jangan mengabaikan nyeri punggung. Karena bisa saja itu merupakan gejala persalina kurang bulan, yang biasanya disertai dengan pendarahan per vagina.

Sindroma Hughes

Sindroma Hughes, juga dikenal dengan istilah "Darah Kental" atau "Sindroma Antifosfolipid", merupakan penyakit auto-imun (penyakit akibat reaksi kekebalan tubuh kita sendiri) yang dapat menimbulkan gangguan pembekuan darah di pembuluh arteri dan vena yang selanjutnya dapat menimbulkan berbagai gejala, termasuk didalamnya keguguran, trombosis (penyumbatan pembuluh darah) pada kaki, stroke dan serangan jantung.

Satu dari lima kasus stroke pada usia muda (<45tahun)>
  • Trombosis vena pada kaki (DVT), Lengan dan organ2 dalam seperti ginjal, hati, paru, otak dan mata.
  • Trombosis pembuluh arteri, yang dapat menyebabkan stroke berulang dan stroke ringan (TIA), gangguan pada saraf dan serangan jantung.
  • Jumlah sel darah trombosit (sel pembeku) sedikit menurun
  • Sakit kepala (sering salah diagnosa sebagai migrain).
  • Gejala2 seperti Multiple sclerosis
  • Gerakan2 abnormal pada tubuh (Chorea)
  • Hilang ingatan.
  • Kejang-kejang.
  • Kelainan jantung (katup)
  • Kemerahan pada kulit (livedo reticularis)
  • Keguguran yang berulang.
  • Pada sindroma Hughes tubuh memproduksi antibodi terhadap fosfolipid, yang banyak terdapat membran sel tubuh. Laki dan wanita di usia berapa saja bisa terkena sindroma ini, tetapi lebih sering menyerang wanita.

    AFAPemeriksaan darah merupakan petunjuk diagnosis yang penting ditambah dengan riwayat penyakit pasien. Pemeriksaan darah sederhana untuk mendeteksi antibodi antifosfolipid juga dikenal dengan antibodi antikardiolipin.

    Pemeriksaan ini akan positif pada 80% kasus. Pemeriksaan lainnya darah lainnya adalah lupus anti-koagulan, yang akan positif pada 30-40% kasus. Pemeriksaan ini harus diulang-ulang karena tes ini juga bisa positif pada keadaan tertentu seperti pada kasus infeksi serta pada pengobatan tertentu. Kriteria Sapporo dipakai untuk mendiagnosis dengan mengkombinasikan temuan klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium.

    Pengobatannya sederhana dan bertujuan mencegah terbentuknya sumbatan atau trombus menggunakan aspirin atau heparin atau kedua2nya. Aspirin diberikan dalam dosis rendah. sekitar 75mg/hari kira2 seperempat dosis aspirin untuk orang dewasa.

    Kemungkinan seorang wanita bisa hamil sampai cukup bulan akan meningkat dari 19 sampai diatas 75-80% jika aspirin diminum secara reguler serta diberikan heparin. Heparin tidak melewati plasenta sehingga aman untuk kehamilan. Tetapi penggunanan jangka panjang dapat menyebabkan osteoporosis pada ibu.

    Jika terjadi penyumbatan (thrombosis), maka dipergunakan warfarin tetapi, harus dimonitor secara ketat serta tidak boleh diberikan pada wanita hamil.

    Sumber : CNN

    Tangan kesemutan pada wanita hamil

    Pada sebagian kecil ibu hamil, ada yang mengeluh tangannya kesemutan atau bahkan kurang berasa (tidak sensitif) kalau disentuh. Hal ini terutama terjadi saat bangun pagi. Menjelang siang gejalanya berkurang. Apa yang terjadi sesungguhnya ? Pernah dengar tentang Sindroma Carpal Tunel ? Simak selanjutnya tulisan ini.

    Pada saat bayi semakin tumbuh, tubuh ibu hamil akan semakin banyak menahan (menyimpan) air dan hampir semua jaringan tubuh "membengkak". Demikian juga dengan halnya dengan jaringan disekitar pergelangan tangan ikut membengkak. Ada yang namanya saraf median, yang lewat pada pergelangan tangan, terjepit akibat adanya pembengkakan ini. Kondisi ini disebut Sindroma Carpal Tunnel, nama dari serabut cincin , yang mengelilingi pergelangan tangan dimana saraf lewat.

    Sindroma Carpal tunnel memberikan rasa kesemutan dan kurang sensitif di terutama pada jari tengah, manis dan kelingking pada tiap tangan serta rasa nyeri di jari telunjuk dan jempol. Jika blok sarafnya total maka seluruh jari2 seperti tidak terasa.

    Kondisi ini terutama terjadi di pagi hari, akibat akumulasi penumpukan cairan di malam hari saat tidur. Gejala sindroma ini semakin terasa saat kehamilan semakin besar.

    untuk mengatasinya sementara, angkat kedua tangan diatas kepala selama beberapa menit. Tekuk tangan dan pergelanagn, kembangkan jari tangan dan coba menggeliat serta memutar bahu untuk mengurangi tekanan pada saraf median. Jika tidak membantu maka bisa dipasang belat (splint) pada tangan (oleh dokter). Untuk mencegah saat tidur malam tangan ditinggikan dengan bantal.

    Dokter bisa meresepkan obat diuretik (pembuang air) serta dianjurkan diet rendah garam. Secara konservatif dokter juga memberikan vitamin B6 untuk mengobati kondisi ini, tapi sayangnya bukti yang menunjukkan vitamin ini bisa membantu penyembuhan. Sindroma ini biasanya hilang sendiri setelah bayi lahir. Jika masih terasa juga setelah bayi lahir dan dengan obat2an juga gak mau hilang, maka harus di operasi ringan .

    Pengobatan alternatif untuk sindroma ini diantaranya : Akupunktur, olah raga (meregangkan tangan), Massase didaerah pergelangan tangan, Osteopati, dan pijat Shiatsu.

    Nyeri Sekitar Pinggang Saat Hamil

    Selama kehamilan tubuh memproduksi hormon yang disebut relaksin, yang berfungsi untuk melembutkan ligamen (keras dan merupakan jaringan yang menghubungkan tulang yang ada di panggul dan sendi lain), sehingga saat persalinan panggul menjadi fleksibel dan bayi bisa melaluinya dengan aman. Namun sebaliknya karena sifatnya melembutkan tersebut ditambah banyaknya tekanan pada sendi maka akan menimbulkan nyeri pada tulang-tulang panggul dan pubis (tulang kemaluan).

    Saat berbaring, berdiri atau berjalan, panggul berada dalam kondisi dan posisi yang stabil. Wanita hamil yang menderita nyeri panggul diduga melakukan semua kegiatan-kegiatan ini dengan kurang stabil. Sehingga menimbulkan nyeri dan bahkan pembengkakan.



    Sakit di bagian belakang panggul dikenal sebagai PGP (Pelvis Girdle Pain). Sedangkan jika rasa sakitnya di sekitar tulang kemaluan dikenal dengan istilah SPD (=Simfisis pubis dysfunction).

    Nyeri pada PGP sering hanya pada satu sisi saja. Dan bisa saja nyerinya berpindah ke sisi satunya dan disertai dengan nyeri punggung atau nyeri di bagian depan panggul.

    Nyeri ini bisa menjalar ke arah bokong serta bagian belakang kaki serta pinggul. Satu atau kedua kaki bisa terasa lemah dan mungkin kakai tidak dapat diangkat, terutama ketika berbaring.

    Nyeri ini biasanya di perparah oleh posisi berbaring telentang, berubah2 posisi di tempat tidur, berjalan dan berdiri. Sering bertambah nyerinya pada malam hari dan intensitasnya berbanding lurus dengan banyaknya aktifitas di siang hari. PGP mulai bisa terjadi pada awal trimester pertama atau beberapa hari terakhir menjelang melahirkan dan bisa berulang pada kehamilan berikutnya.

    Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasinya:

    • Berhati-hati selama aktifitas sehari-hari. Ahli fisioterapi dapat menunjukkan bagaimana posisi panggul saat berjalan atau berdiri.
    • Gerakan2 senam terutama untuk perut dan dasar panggul, akan meningkatkan stabilitas pinggul dan punggung.
    • Fisioterapi pinggul, punggung atau panggul untuk melonggarkan daerah yang kaku.
    • Akupunktur dapat membantu (harus yang berpengalaman dalam memperlakukan wanita hamil ).
    PGP jarang menimbulkan masalah pada persalinan. Jika memungkinkan, hindari berbaring telentang saat melahirkan, posisi tegak atau berlutut dapat melindungi sendi panggul dan terasa lebih nyaman. Jika harus duduk di tempat tidur selama persalinan, maka duduklah setegak mungkin . Pada berapa kasus, PGP dapat bertahan lama setelah lahir.

    Tips:
    1. Hindari berbaring telentang atau duduk merosot, terutama dengan kaki lurus. Jika harus berbaring telentang, mala letakkan gulungan handuk di bawah punggung, setinggi pinggang untuk mendukung punggung dan tekuklah lutut.
    2. Bila berjalan, lengkungkan punggung dan ayunkan tangan.
    3. Melakukan gerakan-gerakan senam untuk dasar panggul secara teratur sehingga dapat membantu memperkuat sendi pinggul.
    4. Hindari mengangkat atau mendorong sesuatu yang berat.
    5. Istirahat yang cukup.
    6. Kadang-kadang tidur di permukaan yang lebih lembut dapat membantu.
    7. Ketika berpakaian, menarik celana (dalam dan panjang) lakukan dalam posisi duduk.(http://www.babycentre.co.uk)

    Serviks inkompetens

    Pada keadaan tertentu pemendekan dan penipisan leher rahim (serviks) terjadi secara dini pada kehamilan yang bukan disebabkan oleh proses persalinan, melainkan akibat lemahnya struktur serviks. Hal ini disebut serviks inkompeten.Lemahnya struktur serviks ini bisa disebabkan oleh sejumlah kondisi, yang mana terbanyak akibat cedera (injury)sebelumnya pada serviks atau karena kelainan bawaan.

    Perhatikan gambar tengah...


    Akibat lemahnya struktur, maka serviks tidak mampu menahan bobot kehamilan. Akibatnya serviks membuka walaupun tanpa adanya kontraksi, kadang2 sampai membuka lengkap. Akibat terbuka maka selaput ketuban akan menonjol dan bahkan pecah jauh sebelum bayi bisa hidup di dunia luar (prematur).

    Faktor risiko serviks inkompeten adalah: riwayat serviks inkompeten pada kehamilan sebelumnya, pembedahan, cedera leher rahim, pemberian obat DES (dietilstilbestrol) , dan kelainan anatomi leher rahim. Penyebab lain termasuk kauterisasi serviks (untuk menghilangkan pertumbuhan atau menghentikan pendarahan) dan biopsi kerucut.

    Wanita dengan serviks tidak kompeten biasanya sering dengan gejala minimal saat terjadi dilatasi leher rahim antara 16 dan 28 minggu kehamilan. Awalnya pembukaan hanya 2 cm atau lebih. Ketika leher rahim mencapai 4 cm atau lebih, rahim berkontraksi atau pecah ketuban dapat terjadi.

    Diagnosis dibuat dengan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan USG. Setelah didiagnosis, kondisi ini dapat diobati melalui prosedur pembedahan yang disebut cerclage (jahitan menutup leher rahim). Satu atau lebih jahitan ditempatkan di sekitar atau melalui leher rahim agar tetap tertutup rapat.

    Hal ini biasanya dilakukan setelah minggu kedua belas kehamilan, tetapi tidak dilakukan jika ada pecahnya ketuban atau infeksi. Setelah operasi, sang ibu dipantau dengan hati-hati untuk memeriksa infeksi dan kontraksi, yang kadang-kadang disebabkan oleh prosedur ini. Setelah pulang dari rumah sakit, pasien dapat tetap aktif. Cerclage biasanya dibuka sebelum melahirkan sehingga pasien dapat melahirkan normal. Dalam beberapa kasus, cerclage dapat dibiarkan pada tempatnya, dan bayi ini kemudian dilahirkankan dengan operasi caesar.

    OPERASI CERCLAGE

    Demam saat hamil

    Demam adalah suatu kondisi objektif, di mana suhu melebihi 37° C . Sering seseorang mengatakan demam padahal suhu tubuhnya masih normal, ini sebetulnya bukan demam, tetapi hanya keluhan subjektif saja.

    Demam merupakan gejala suatu penyakit/kondisi abnormal di tubuh, siapa saja tidak pandang usia dan gender bisa mengalami demam, begitu juga wanita hamil. Demam muncul sebagai suatu reaksi terhadap masuknya virus atau bakteri atau juga penyebab2 seperti di bawah ini :
    • Kepanasan dan kekurangan cairan (dehidrasi)
    • Reaksi inflamasi (peradangan) seperti pada radang rematik
    • Tumor ganas
    • Obat2an seperti obat anti kejang, obat tensi tinggi dll
    • Imunisasi
    Pada wanita yang sedang hamil muda terutama di trimester I, demam dapat menyebabkan keguguran spontan. kerusakan/cacat otak dan sumsum tulang belakang. Sedangkan pada hamil tua meningkatkan risiko terjadinya persalinan kurang bulan.

    Sebelum mencari pertolongan ke dokter untuk mencari penyebabnya serta di berikan terapi sesuai penyebab, maka suhu tubuh harus segera diturunkan. Bisa dengan memakai obat anti demam (antipiretik) serta diberikan kompres. Sedangkan pada demam yang sangat tinggi ( hipertermia berat) dibutuhkan selimut pendingin (cooling blanket).

    Kehamilan dengan Asma Bronkhial

    Asma merupakan penyakit paru yang paling sering dijumpai pada kehamilan. Banyak wanita yang khawatir tentang perubahan2 tubuh selama hamil dapat memicu serangan asma atau adakah efeknya pengobatan asma terhadap bayi. Dengan pengobatan asma yang baik, maka hamil umumnya akan normal serta dapat melahirkan bayi secara normal juga. Pengobatan asma selama hamil akan sangat sukses jika bumil mendapatkan pengobatan yang pengobatan secara teratur.

    Berat ringannya serangan asma saat hamil berbeda-beda pada setiap wanita. Saat hamil, asma memburuk pada 1/3 penderitanya, membaik 1/3 nya dan tetap stabil pada 1/3 nya lagi.

    Pola lainnya yang berhasil diamati adalah:
    * Pada yang asmanya memburuk, peningkatan gejala sering terlihat pada usia kehamilan sekitar 29 dan 36 minggu.
    * Asma biasanya membaik dalam blan2 akhir kehamilan.
    * Persalinan da kelahiran jarang memperburuk asma.
    * Pada yang asamanya membaik, prosesnya berlangsung bertahap selama kehamilan.
    * Beratnya gejala asma pada kehamilan I akan sama saja dengan hamil selanjutnya.

    Secara umum, wanita dengan asma dan bayinya tidak memiliki komplikasi kehamilan. Dibandingkan dengan wanita yang tidak punya asma, maka wanita dengan asma sedikit lebih memiliki risiko kelainan sbb:
    * Tekanan darah tinggi atau preeklampsia
    * Persalinan kurang bulan
    * Persalinan dengan cesar
    * Ukuran bayi yang lebih kecil dibanding usia kehamilan

    Selama hamil, penanganannya dilakukan bersama antara dokter paru atau internist dengan SpOG . Untuk memonitor pertumbuhan bayi, penting sekali memastikan hari perkiraan lahir. Jika Haid terakhir (HPHT) tidak ingat, maka harus dilakukan USG pada TM untuk memastikan kehamilan, karena mengukur usia kehamilan di TM I adalah saat yg paling akurat. Jika ibu mendapatkan terapi kortikosteroid, maka USG dilakukan setiap 4 minggu guna memonitor perkembangan bayi.

    Pengobatan asma pada wanita hamil, mirip dengan pengobatan wanita yang tidak hamil. Terapi asma selama kehamilan memliki beberapa komponen utama, yang akan sangat berhasil jika dikombinasikan

    Memantau fungsi paru ibu dan kesejahteraan janin. Fungsi paru dapat diukur dengan alat sederhana yang namanya Peak Expiratory Flow Rate (PEFR). Sedangkan kesejahteraan janin diperiksa dengan USG dan KTG.

    Langkah selanjutnya adalah menghindari diri dari faktor2 yang mencetus asma (zat alergi=alergen) dan iritan, seperti debu rumah, asap rokok, bau parfum yang keras, dan polutan. Lapisi kasur dan bantal dengan dengan sprei khusus sehingga terhindar dari debu tungau.

    Obat2an yang dipakai sama dengan pada yang tidak hamil. Secara umum obat inhalasi sangat dianjurkan, karena obat bersifat lokal, sehingga efeknya sangat minimal terhadap ibu dan janin.

    Masih belum terdapat cukup bukti akan keamanan obat asma terhadap kehamilan. Namun pemakaiannya selama bertahun2 memperlihatkan tidak adanya hal2 yang membahayakn ibu dn janin.

    Jenis2/golongan obat asma :
    Bronkhodilator (membuka/melebarkan saluran nafas) — contohnya albuterol (Proventil®, Ventolin®), metaproterenol (Alupent®), terbutaline, salmeterol (Serevent®) dan formoterol (Foradil®).

    Glukokortikoid — Obat ini secara empiris aman buat ibu dan bayi. Contohnya seperti prednison tablet dan obat inhalasi seperti beclomethasone (Beclovent®, Vanceril®, dan lainnya), triamcinolone (Azmacort®), flunisolide (AeroBid®), budesonide (Pulmicort®), dan fluticasone (Flovent®).

    Theophylline — Theophylline (Slo-bid®, Theo-Dur®, dan lainnya) oabt ini juga aman, tetapi akhir2 ini penggunaannya agak jarang karena adanya inhalasi glukokortikoid, karena lebih efektif serta efek sampingnya yang lebih rendah.

    Cromolyn sodium —sama halnya dengan Theophylline kalah bersaing dengan inhalasi glukokortikoid.

    Leukotriene modifier — contohnya zafirlukast (Accolate®), montelukast (Singulair®), dan zileuton (Zyflo™).

    Antihistamin — Walaupun bukan obat asma secara langsung, obat ini berfungsi menghilangkan reaksi alergi yang menimbulkan asama misalnya diphenhydramine (Benadryl®), chlorpheniramine (Chlor-Trimeton® dan lain-lain), loratadine (Claritin®), fexofenadine (Allegra®), dan cetirizine (Zyrtec®).

    Dekongestan — bukan untuk mengobati asma, tetapi berfungsi menghilangkan reaksi alergi terhadap jalan nafas atas seperti hidung tersumbat dll contohnya Pseudoephedrine (Sudafed®).

    Terapi Immun — Terapi imun berupa desensitisasi, penyuntikan alergen secara berulang-ulang, yang gunanya mengurangi sensitifitas seseorang ter5hadap alergen. Pengobatan ini aman buat wanita hamil.

    Obat2an untuk persalinan seperti oksitosin dapat diberikan pada wanita hamil dengan asma. Jika dibutuhkan anestesi maka sebaiknya mempergunakan epidural anestesia, karena anestesi tipe ini mengurangi kebutuhan oksigen.

    Jika terpaksa dibutuhkan anestesi umum seperti keadaan yang sangat emergensi sekali, maka dianjurkan memakai obat anestesi umum yang memilki efek melebarkan saluran nafas (bronkodilator.

    Kehamilan dengan Penyakit Ginjal

    Secara empiris, kehamilan dengan kelainan ginjal kronis merupakan kehamilan dengan risiko yang sangat tinggi. Karena kehamilan sendiri bisa menyebabkan kelainan2 pada ginjal seperti infeksi saluran kemih, hipertensi dan lain sebagainya.

    Insufisiensi Ginjal Kronis
    Perhatian terhadap wanita hamil dengan penyakit ini menjadi dua kali lipat, karena satu: efek kehamilan terhadap fungsi ginjal dan dua: efek kelainn ginjalnya terhadap kehamilan.

    Efek kehamilan terhadap fungsi ginjal
    Bisa terjadi penurunan fungsi ginjal. Secara umum prognosa tergantung derajat dengan gangguan ginjal pada saat konsepsi, serta adanya kelainan2 penyerta, seperti tekanan darah tinggi dan bocornya protein (proteinuria). Fungsi ginjal biasanya bertahan dengan kondisi insufisiensi yang moderat.Insufisiensi ringan jika kadar serum creatinine <1.5 mg%, sedang jika kadar serum creatinine 1.5-2.4 mg% dan berat jika kadar serum creatinine >2.5 mg%

    Penyebab menurunnya fungsi ginjal, pada beberapa pasien bahkan tidak diketahui. Adanya hipertensi memberi kontribusi memburuknya fungsi ginjal. Infeksi saluran kencing juga bisa memperburuk fungsi ginjal. Proteinuria yang sering terjadi pada wanita hamil bisa mempengaruhi fungsi ginjal.

    Efek insufisiensi ginjal terhadap kehamilan
    Secara umum, janin bisa bertahan hidup sangat besar yaitu 95%. Namun pada pasien yang menjalani dialisis (cuci darah)angkanya menjadi 52%. Penderita dengan gangguan ringan bisa mengalami komplikasi berupa BBLR, persalinan kurang bulan dan lahir mati.

    Penanganan
    Kunjungan ANC harus lebih sering. Beberapa penulis menganjurkan kontrol tiap 2 minggu sampai usia kehamilan 28 minggu dan seminggu sekali sesudahnya. Kontrol tekanan darah pada setiap kunjungan. Lakukan test urin terhadap adanya protein serta lakukan skrining akan adanya infeksi saluran kencing. Erythropoietin dapat diberikan jika penderita mengalami anemia namun harus hati2 karena bisa memperburuk hipertensi.

    Kehamilan pada pasien cuci darah
    Penyakit ginjal yang membutuhkan dialisis biasanya menurunkan kesuburan. Kehamilan bisa terjadi pada 1 % pasien terutama ditahun2 awal dialisis. Penyebab infertilitasnya tidak diketahui pasti, diduga karena berbagai faktor (multifaktorial). 42% wanita yang menjalani dialisis haidnya masih tetap normal, tetapi tidak berovulasi (anovulatoir). Anemia juga berperan dan pemakaian erythropoietin didapatkan meningkatkan angka kehamilan.

    Secara umum, kehamilan dilarang (kontra indikasi) pada pasien dialisis. Luaran janin selalunya jelek. Hanya 23-55% kehamilan yang bayinya bisa hidup. Kebanyakn terjadi abortus pada TM II. Bayi yang bertahanpun masih memiliki kelainan yaitu 85% lahir kurang bulan (prematur)dan 28%-nya BBLR (Berat Badan Lahir Rendah)atau SGA (Small For Gestasional Age). Komplikasi ibu juga ada seperti kematian ibu.

    Diagnosis awal kehamilan juga agak sukar karena kadar HCG penderita dialisis juga tinggi. jika diduga hamil maka lakukan segera pemeriksaan USG.

    Rekomendasi buat penderita dialisis yang hamil
    Masukkan pasien dalam daftar transplantasi. Selama dialisa, lakukan monitor janin dan ibu, hindari terjadinya hipotensi akibat dialisa. Pemakaian erythropoietin bisa meningkatkan harapan hidup janin, namun harus hati2 karena bisa menimbulkan hipertensi. Peningkatan frekuensi dialisa bisa memperbaiki mortalitas dan morboditas (kesakitan).

    Penangan Obstetri
    Penyebab kematian dan kesakitan bayi pada pasien dengan kelainan ginjal adalah persalinan kurang bulan. Masih ada perdebatan tentang melahirkan bayi secara elektif lebih cepat dari waktunya sekitar(34-36 minggu) pada pasien dengan insufisiensi ginjal kronis atau yang sedang menjalani dialisis terutama jika paru janin sudah matang.

    Infeksi Saluran Nafas dan Kehamilan

    Infeksi saluran pernafasan merupakan infeksi terbanyak yang sering ditemukan sehari-hari. Bisa menyerang siapa saja tak terkecuali wanita hamil. Ada empat faktor penting yang terjadi dalam kehamilan yang erat hubungannya dengan fungsi pernapasan.


    • Rahim yang membesar karena kehamilan akan mendorong diafragma keatas, sehingga rongga dada menjadi sempit, pernapasan menjadi cepat (hiper ventilasi).
    • Perubahan homonal, progesteron meningkat, membuat otot-otot saluran pernapasan menjadi kendor, mendorong terjadinya hiperventilasi
    • Meningkatnya volume darah dan cardiac out put dalam usaha menyelamatkan janin serta memenuhi kebutuhan metabolik ibu yang meninggi.
    • Perubahan imunologik. (IgE) mungkin menaik atau menurun pada seorang wanita Hamil. Bila kadar lgE pada penderita asma yang hamil meningkat, ternyata hal ini menyebabkan penderita lebih rentan dan lebih sering dapat serangan asma atau lebih berat.

    Influensa
    Wanita hamil lebih mudah diserang penyakit influensa. Pengobatan dengan banyak istirahat banyak minum, dan kalau perlu diberi analgetika atau antibiotika dan harus dihindari penggunaan obat-obat batuk yang sifatnya supresi dan obat antihistamin.
    Bila ada komplikasi ke arah pneumonia penderita segera dirawat dan diberi antibiotika. Perawatan harus intensif.

    Bronkitis
    Bronkitis akut dapat disebabkan oleh virus atau bakteri. Angka mortalitas ibu cukup tinggi dan pada janin dapat terjadi abortus atau partus prematurus.
    Pengobatan : penderita harus banyak istirahat baring, minum banyak, dan diberi obat-obat bronkodilator. Antibiotika ampisilin 200 - 500 mg peroral tiap 6 jam bila sangkaan ada infeksi bakteri.

    Pneumonia
    Merupakan penyebab kematian non obstetrik yang terbesar setelah penyakit jantung. Segera dirawat dan diobati secara intensif untuk mencegah timbulnya kematian janin/ibu, terjadinya abortus, persalinan prematur atau kematian dalam kandungan. Pneumonia dapat disebabkan oleh virus, bakteri maupun zat kimia. Perlu dilakukan pemeriksaan penunjang :
    1) Foto toraks anterior posterior dan lateral;
    2) Pemeriksaan gas darah (darah arterial);
    3) Sputum diambil dan diperiksa menurut pulasan gram, dan dibiak;
    4) Darah diambil, juga dibiak
    Pengobatan: Diistirahatkan, diberi O2, tidak memberikan obat-obat yang sifatnya narkotik atau menahan batuk. Diberi obat-obat antipiretika untuk menurunkan suhu badan penderita, koreksi kelainan elektrolit atau gas darah bila ada, berilah antibiotika.

    Asma bronkial
    Sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan. Kurang dari sepertiga penderita asma akan membaik dalam kehamilan, lebih dari 1/3 akan menetap, serta kurang dari 1/3 lagi akan menjadi buruk atau serangan bertambah. Biasanya serangan akan timbul mulai usia kehamilan 24–36 minggu, dan pada akhir kehamilan serangan jarang terjadi.
    Penanganan
    1. Mencegah timbulnya stress
    2. Menghindari faktor resiko
    3. Mencegah penggunaan obat seperti aspirin dan semacam yang dapat menjadi pencetus timbulnya serangan
    4. Pada asma yang ringan dapat digunakan obat-obat lokal yang berbentuk inhalasi, atau per oral seperti isoproterenol.
    5. Pada keadaan lebih berat penderita harus dirawat dan serangan dapat dihilangkan dengan satu atau lebih dari obat dibawah ini.
    a. Epinefrin yang telah dilarutkan (1 : 1000), 0,2-0,5 ml, disuntikkan subkutis.
    b. Isoproterenol (1 : 100) berupa inhalasi 3 – 7 hari.
    c. Aminofilin 250-500 mg (6 mg/kg) dalam infus glukose 5 %
    d. Hidrokortison 260-1000 mg iv pelan-pelan atau perinfus dalam dekstrose 10 %.
    Hindari penggunaan obat-obat yang mengandung iodium karena dapat membuat gangguan pada janin, dan berikan antibiotika kalau ada sangkan terdapat infeksi.


    Tuberkulosis Paru
    Sering dijumpai dalam kehamilan. Pada penderita yang dicurigai menderita TBC paru sebaiknya dilakukan pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (Purified Protein Derivate) 5 u dan bila hasilnya positif diteruskan dengan pemeriksaan foto dada.
    Perlu diterangkan bahwa pengobatan yang cukup lama. Penderita dididik untuk menutup mulut dan hidungnya bila batuk, bersin, tertawa. Pengobatan terutama dengan kemoterapi.
    Pada penderita TBC paru yang tidak aktif, selama kehamilan tidak perlu dapat pengobatan. Sedangkan pada yang aktif, dianjurkan untuk menggunakan obat dua macam atau lebih untuk mencegah timbulnya resistensi kuman dan isoniazid (INH).
    Obat-obat yang dapat digunakan
    1. Isonizid (INH), dengan dosis 300 mg/hari.
    2. Ethambutol dengan dosis 15-20 mg/hari.
    3. Streptomycin dengan dosis 1 mg/hari. Hati-hati digunakan dalam kehamilan dan jangan digunakan dalam kehamilan trimester pertama. Pengaruh obat ini menyebabkan tuli bawaan (ototoksik).
    4. Rifampisin dengan dosis 600 mg/hari. Obat ini baik sekali untuk pengobatan TBC paru, akan tetapi mempunyai efek potensial teratogenik yang besar pada binatang percobaan.
    Pemeriksaan sputum setelah 1-2 bulan pengobatan. Persalinan ditolong dengan tindakan ekstraksi vakum atau forceps dan sedapat mungkin penderita tidak meneran, diberi masker untuk menutupi mulut dan hidungnya agar tidak terjadi penyebaran kuman disekitarnya.
    Cegah terjadinya perdarahan postpartum seperti pada pasien-pasien lain pada umumnya. Setelah penderita melahirkan, penderita dirawat di ruang observasi 6-8 jam, kemudian penderita dapat dipulangkan langsung. Diberi obat uterotonika, obat TBC paru diteruskan.
    Bayi setelah lahir segera dipisahkan dari ibunya, sampai ibunya tidak memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi. Pada bayi diberi suntukan Mantoux sampai menunjukkan reaksi positif. Bila suntikan BCG tersedia, sebaiknya segera diberikan pada bayi setelah lahir, atau bila reaksi Mantoux negatif. (Bahan kuliah)